Ausiynii, Nasehati Aku

Tercengang pagi-pagi membaca sebuah nasehat dari Abdullah Ibn Mubarak ”Tidak tersisa di zaman kita seseorang yang mau menerima nasehat dengan lapang dada” betapa diri ini pun termasuk seperti itu. Betapa nasehat baik terlebih terucap dari seseorang yang kita benci sangat sulit untuk kita terima dengan lapang dada bahkan ketika kita tahu nasehat itu adalah baik.

Baju-baju kebencian kadung melekat sehingga sukar untuk dilepaskan. Seakan apapun yang terlontar dari seseorang yang kita benci adalah hina tak patut untuk didengar apalagi diikuti. Jas golongan lebih melekat erat tinimbang nasehat baik yang seharusnya lebih layak untuk diikuti.

Bahkan lebih jauh dari itu adalah karena cintanya pada seseorang sehingga jatuh pada taqlid buta, mengikuti apa yang dikata imam, qiyadah atau perkataan orang-orang terpandang dan disegani di golongannya meski dia tahu ucapan mereka itu tidak ada satu pun kebaikan dan kebenaran di dalamnya.

Sudah sesamar itukah kebenaran hari ini? Sehingga begitu sukar kita membedakan mana kebaikan dan mana keburukan. Ataukah pameo yang mengatakan ”kebohongan/keburukan yang dilontarkan berulang-ulang akan menjadi sebuah kebenaran” ini sudah berlaku?

Dahulu, konon para ulama menempuh ribuan kilometer hanya sekedar untuk menemui ulama yang lain atau guru-guru mereka hanya untuk mengucapkan satu kata ”AUSIYNIY” Nasehati aku!.

Barangkali kita harus mulai belajar atau kembali belajar untuk meneladani Rasul, Sahabt dan orang-orang sholeh sesudah mereka. Betapa mereka haus akan sebuah nasehat baik, betapa memang kecenderungan mereka hanya pada kebaikan, betapa merasanya diri ini tempatnya salah sehingga sejauh apapun kebenaran akan ditempuh untuk memperbaiki kesalahan.

Amat berbeda kita dengan mereka orang-orang sholeh terdahulu, hari ini bahkan nasehat yang datang secara sadar kepada kita pun kita abaikan, kalaupun kita terima tidak dengan lapang dada tapi ada sebuah kedengkian dan keterpaksaan menerima nasehat itu.

Sudah sewajar dan seharusnya kita lepaskan pakaian ashobiyah kita, kita terima semua nasehat baik dari saudara-saudara se iman kita. Kita tolak keburukan meski keluar dari lisan atasan kita, dari qiyadah kita. Bukankah mengatakan kebaikan itu wajib meskipun pahit? Bukankah mengatakan kebaikan adalah sebuah kebaikan juga? Bukankah bekal menuju surga adalah kebaikan (yang didasari keimanan kepada Allah tentunya)?

 

Maka, apa nasehatmu untukku??

 

Nasehat untuk diri sendiri, nasehat untuk mulai mau menerima nasehat.

Bekasi, menjelang qoilulah.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sapa Hangat Dari Saya

Duh berapa lama blog ini sunyi senyap, atau malah udah jadi sesuatu yang menyeramkan, seperti sebuah rumah yang dibiarkan teronggak seperti tak bertuan? Entahlah, kamu yang membaca tulisan ini lebih layak untuk menjawab 🙂

Keterbatasan akses dan ketiadaan computer membuat jemari mulai enggan untuk mengetuk kibor. Berbagai ide yang ingin ditulis pun terpaksa hilang ditelan lupa. Jadilah blog yang dulu sempat menjadi pelampiasaan kini masih jadi pelampiasaan, tapi bukan pelampiasaan emosi jiwa, tapi pelampiasaan kemalasan.

Tulisan ini juga bukan berarti akan ada tulisan-tulisan baru setelah postingan ini beredar. Ini hanya mengharap kegalauan dan sebagai bentuk pelampiasaan rasa bersalah setelah sekian lama membiarkan blog ini diam dalam sepi 😀

Tulisan ini hanya stimulus awal untuk terus memulai menulis, dimulai dengan bismillah, dimulai dari yang kecil dan dimulai dengan tulisan-tulisan ga jelas seperti ini, mudah-mudahan ada tulisan-tulisan yang lebih berisi dan lebih menginspirasi.

Mari Menulis!

salam hangat dari saya.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Keluh Kesah

Perjalanan dimulai, entah berapa banyak halangan, duri dan onak yang datang bergantian. Tak satu pun membuatku gentar. Sebaliknya, justru semakin memacu untuk terus berjuang, berikhtiar dan mengambil pelajaran darinya.

Betapa ujian silih berganti datang, kucoba tak satu pun aku keluhkan. Aku tahu setiap tingkatan ada ujian, ibarat sebuah ulangan sekolah, tak mungkin materi yg diujikan diluar materi yang diajarkan. Begitu juga ujian dariNya, tak akan melebihi kadar kemampuan dan keimanannya. Itu janjiNya.

Maka ridho dan sabar atas ketentuanNya adalah keniscayaan yang harus dipilih. Tak ada guna keluh kesah sumpah serapah, jika ridho mudah jalan keluarnya, jika sabar pahala ganjarannya.

Amat indah janji yang difirmankanNya, sayangnya manusia terlanjur membawa sifat suka berkeluh kesah, jika senang mereka lupa, jika susah mereka meronta. Ah naif nian hidupnya.

Berdoa dikuatkan mengemban dan menghadapi masalah pun tuntunan Nabi, selain juga dimudahkan segala urusan. Maka tiada guna berlama-lama dalam nestapa. Sudah waktunya bergerak dan berubah. Ingat firmanNya, takkan diubah nasib kita, tanpa kita yg mau merubahnya.

Sekian, mudah-mudahan ada manfaatnya 🙂
– Dalam Elf 56, saat hati mulai ingin berkeluh kesah-

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Terkadang Orang Lain Tak Perlu Tahu Kondisi Kita

Hmm.. Baru kali ini nulis diawali dengan judul 🙂 biasanya tulisan panjang lebar dulu baru bingung nyari judul 😀

Sedari tadi dipaksa berfikir tentang kondisi seseorang, namun tiba-tiba terhenyak dan bergumam, tak semua orang harus tahu kondisi kita.

Mungkin ada benarnya, ini bukan soal privasi juga mungkin soal harga diri, ini hanya tentang bagaimana menjaga hubungan kita dg orang lain.

Mungkin berjalan dengan kepalsuan dan menutup rapat kondisi diri yang sebenarnya juga perlu. Ga harus selalu menangis kalau bisa memaksakan untuk tersenyum. Atau tak perlu terus diam kalo bisa memaksakan bicara.

Tapi bagi kebanyakan orang menjadi diri sendiri lebih baik. Apa adanya diri ditampakkan, tanpa berusaha menutupi kekurangan dan kelemahan.

Apapun, orang lain terkadang memang tak harus tahu kondisi kita, biar kita sendiri yg menikmati dan belajar dari kondisi itu 🙂

Dalam gelap, di sebuah kamar petak.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Membersihkan Sarang Laba-Laba

Tiba-tiab sedih melihat laman blog saya kacau penuh sarang laba-laba. Terbesit hati untuk menulis sebaris dua baris kalimat untuk sekedar menghilangkan sawang-sawang yang mulai ramai di dinding-dinding tulisan.

Belum ada judul, belum ada tulisan, bahkan ide pun baru saja muncul. Bukan ide tentang topic tulisan, tapi ide untuk sekedar memberi jejak bahwa setelah gelap ini tidaklah kembali gelap. Sekedar memberi label bahwa langit membiru ini tak sirna digusur mendung.

Keterbatasan akan akses lah yang kemudian disalahkan. Akses PC tidak semudah dulu untuk didapatkan, pun akses internet. Kalau dulu PC bisa didatangi 24 jam, kini hanya setengahnya atau bahkan sepertiganya saja. Akses internet pun nyaris hanya didapat dari sebuah telepon seluler murah merk Samsung yang tak sampai sebulan sudah berkurang kecepatannya. Jadilah sarang laba-laba beternak dan berkembang biak di setelah gelap.

Ga usah berharap lebih dari tiap tutur kata yang termaktub disini, karena sama, setiap tulisan di blog ini hanyalah sebuah ekspresi tanpa makna yang disaji, bukan narasi keilmuan tingkat tinggi, atau goresan ilmiah berdasar riset berhari-hari.

Disini, di blog ini hanyalah sebuah jeritan dan rintihan penulis, bahkan terkadang juga imajinasi penulis yang terlampau rendah hingga makna sebungkus saja tidak dapat dicerna 

Apapun, tulisan tetaplah tulisan, mengasahnya tetaplah perlu. Apalah yang akan dibanggakan kalau bicara di depan khalayak saja gemetar lalu menulis pun tak mudah bisa dicerna? Jadi pembelajar seumur hidup mungkin pilihan yang bijak, tapi apa iya tak ada manfaat yang mau ditanam sebagai bekal kehidupan setelah mati? Inilah sebuah harapan yang kelak akan aku usahakan untuk dituntaskan. Memberi manfaat dan memberi label pada diri, bahwa aku pernah hidup! Selamat menulis!

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Khawatir

Entah apa yang membuat dhomir ini begitu gundah dan rasa khawatir pun tiba-tiba datang bertubi-tubi. padahal kukubur sudah fikiran-fikiran negatif ttg mu, kupendam dalam-dalam hal-hal buruk yg sering datang.

namun entah dari sisi mana lagi kekhawatiran ini datang. serius aku tak sekalipun mengundang. kekhawatiran ini datang begitu saja, tanpa tedeng aling-aling.

Ketika kekhawatiran seperti ini datang, aku pun hilang pilihan, fikiran kacau tak perikan. lalu caraku hanya sembahyang dan terkadang beberapa ayat kulantun dan doa kupanjatkan.

hanya itu, jujur hanya itu yg bisa aku lakukan. ketika tak ada cara lain utk menenangkan.

mungkin kekhawatiran-kekhawatiran seperti ini sering dirasakan orang lain sebelum mereka menikah. entahlah, yang pasti seperti itulah yang sedang aku rasakan.

Terkadang terbesit, apa fikiran-fikiran negatif seperti ini lahir karena kurangnya aku bersyukur atau memang lahir dari dosa-dosa yg pernah aku lakukan. entahlah, apapun itu aku cm berharap dijauhkan dari kekhawatiran yang menyiksa ini.

maafkan aku yang masih saja mengkhawatirimu. percayalah, semata karena aku tak pernah tahu apa yang terjadi hari ini dan nanti. bukan rasa percayaku ke km yang berkurang atau raguku atasmu yang bertambah. bukan, sungguh bukan itu.

ingatkan aku ttg kebaikan, ajak aku utk melakukan lebih banyak kebaikan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Senja Itu …

Senja kukirim engkau seutas senyum. Sebelum engkau tergelincir di ufukmu. Senyum sebagai bentuk syukur dan terima kasih utk setiap indah yg kau saji. Senyum ketenangan yang selalu siap kunikmati selepas penat terkunci dalam rutinitas.

Senja, meski kadang aku melewatkanmu tapi sekalipun tak pernah kau pudarkan indahmu. Elok warnamu tak pernah berubah meski aku terkadang jemu.

Senja, keindahanmu adalah juara. Caramu menyinari sungguh menggilai. Tak patut rasanya aku menilai indahmu. Biar kupuja atau kumaki elokmu takkan pernah berubah. Keindahanmu adalah absolut.

Kau tuntun aku pada malam, berteman cahaya rembulan nan anggun. Berhias jutaan bintang menambah lengkap keindahan. Bodoh nian jika aku masih saja merasa bosan. Kilau indah ditambah bentuk rembulan yg berubah seiring bergantinya tanggal. Sungguh pemandangan indah yg juga tak terbantahkan 🙂

Esok pagi kan datang, diawali dg fajar yg gagah menantang. Diikuti mentari nan aduhai tampan, dg sinar yg begitu tajam menjadi awal dimulainya siang. Waktu terbaik bagi banyak orang utk menghasilkan uang.

Ah proses sempurna yg dicipta sang Maha Sempurna. Tak akan ada yg mampu menandingi ciptaNya..

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar